Panduan Tes Kepribadian Calon Karyawan: Jenis, Manfaat, dan Cara Menerapkannya

Panduan Tes Kepribadian Calon Karyawan Jenis, Manfaat, dan Cara Menerapkannya

Dalam memilih talenta terbaik, perusahaan perlu memahami bagaimana cara kandidat berpikir, berkomunikasi, bekerja dalam tim, hingga menghadapi tekanan. Itulah mengapa banyak perusahaan mulai memasukkan tes kepribadian dalam proses rekrutmen.

Tes kepribadian calon karyawan merupakan metode asesmen yang digunakan untuk mengenali karakter, kecenderungan perilaku, gaya kerja, serta kesesuaian kandidat dengan budaya perusahaan. Hasilnya dapat menjadi pertimbangan tambahan bagi HR untuk mengambil keputusan rekrutmen.

Lalu, apa saja jenis tes kepribadian calon karyawan yang umum digunakan? Apa manfaatnya bagi perusahaan, dan bagaimana cara menerapkannya secara efektif? Simak pembahasan lengkapnya dalam artikel berikut.

Mengapa Tes Kepribadian Penting dalam Rekrutmen?

tes kepribadian calon karyawan

Proses rekrutmen yang efektif tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis kandidat. Perusahaan juga perlu memahami bagaimana seseorang bekerja, berkomunikasi, dan beradaptasi di lingkungan kerja. 

Di sinilah tes kepribadian calon karyawan berperan untuk memberikan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai karakter dan gaya kerja kandidat. Melalui hasil tes, HR dapat memperoleh informasi yang sulit dinilai hanya dari CV atau wawancara, seperti:

Baca Juga: 10 Strategi Efektif Otomatisasi Proses Rekrutmen untuk Perusahaan Modern

  1. Kesesuaian gaya kerja kandidat dengan posisi yang dilamar.
  2. Kecocokan karakter dengan budaya dan nilai perusahaan.
  3. Cara kandidat menghadapi tekanan, menyelesaikan masalah, serta bekerja sama dalam tim.

Bagi perusahaan, penggunaan tes kepribadian calon karyawan juga memberikan berbagai manfaat, seperti:

  1. Membantu pengambilan keputusan rekrutmen yang lebih objektif.
  2. Mengurangi risiko salah memilih kandidat yang kurang sesuai.
  3. Mendukung proses wawancara dengan pertanyaan yang lebih terarah.
  4. Meningkatkan peluang mendapatkan karyawan yang lebih cepat beradaptasi dan bertahan lebih lama.
  5. Membantu menempatkan kandidat pada posisi yang sesuai dengan potensi dan karakteristiknya.

Meski demikian, hasil tes kepribadian sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya dasar dalam menentukan kandidat. Agar hasilnya lebih akurat, perusahaan perlu mengkombinasikannya dengan metode seleksi karyawan lainnya, seperti wawancara, tes kompetensi, maupun penilaian pengalaman kerja.

Kapan Sebaiknya Menggunakan Tes Kepribadian?

tes kepribadian calon karyawan

Tes kepribadian tidak selalu harus menjadi bagian dari setiap proses rekrutmen. Penggunaannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan, karakteristik posisi, serta tujuan seleksi.

Secara umum, tes kepribadian calon karyawan sebaiknya digunakan dalam kondisi berikut:

  1. Posisi membutuhkan soft skill tertentu:  Misalnya kemampuan bekerja sama, kepemimpinan, komunikasi, empati, atau mampu bekerja di bawah tekanan.
  2. Kesesuaian dengan budaya perusahaan jadi prioritas: Hal ini penting terutama pada perusahaan dengan budaya kerja yang khas atau tim yang sangat mengandalkan kolaborasi dan culture fit.
  3. Jumlah pelamar sangat banyak: Tes kepribadian dapat membantu HR menyaring kandidat secara lebih objektif sebelum masuk ke tahap wawancara.
  4. Perusahaan dengan turnover karyawan tinggi: Hasil tes dapat membantu mengidentifikasi kandidat yang memiliki karakter dan gaya kerja lebih sesuai dengan kebutuhan organisasi.

Jenis-Jenis Tes Kepribadian Calon Karyawan

tes kepribadian calon karyawan

Setiap tes kepribadian memiliki tujuan dan pendekatan yang berbeda. Ada yang dirancang untuk memprediksi perilaku kerja, ada pula yang lebih cocok digunakan sebagai alat pengembangan karier atau pelengkap proses asesmen.

Berikut beberapa jenis tes kepribadian yang paling umum digunakan dalam proses rekrutmen.

1. Big Five (OCEAN)

Big Five atau OCEAN merupakan salah satu model kepribadian yang paling banyak digunakan dalam dunia psikologi industri dan organisasi. Tes ini mengukur lima dimensi utama, yaitu Openness, Conscientiousness, Extraversion, Agreeableness, dan Neuroticism.

Melalui lima dimensi tersebut, HR dapat memperoleh gambaran mengenai cara kandidat bekerja, berinteraksi dengan orang lain, hingga menghadapi tekanan. Hasil tes biasanya berupa skor pada setiap dimensi, bukan pengelompokan ke satu tipe kepribadian tertentu.

Karena memiliki dasar penelitian yang kuat, Big Five sering digunakan sebagai salah satu acuan untuk membantu memprediksi kecocokan kandidat dengan suatu posisi maupun budaya perusahaan.

2. DISC

DISC merupakan tes yang mengelompokkan gaya perilaku seseorang ke dalam empat kategori, yaitu Dominance, Influence, Steadiness, dan Conscientiousness.

Tes ini membantu HR memahami cara kandidat mengambil keputusan, berkomunikasi, menyelesaikan pekerjaan, serta berinteraksi dengan rekan kerja. Hasilnya juga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam membentuk tim yang lebih seimbang.

DISC banyak digunakan untuk proses rekrutmen, pengembangan kepemimpinan, hingga evaluasi kerja karena hasilnya mudah dipahami dan diterapkan.

Baca Juga: Tips DEI Rekrutmen untuk Bangun Tim Inklusif dan Inovatif

3. MBTI (Myers-Briggs Type Indicator)

MBTI mengelompokkan individu ke dalam 16 tipe kepribadian berdasarkan empat pasangan preferensi, seperti introvert atau ekstrovert serta thinking atau feeling.

Tes kepribadian calon karyawan ini sering digunakan untuk membantu memahami gaya komunikasi, cara belajar, dan preferensi seseorang saat bekerja dalam tim. Oleh karena itu, MBTI cukup populer dalam kegiatan pelatihan maupun pengembangan karyawan.

Meski demikian, MBTI umumnya tidak disarankan menjadi satu-satunya dasar dalam menentukan kelulusan kandidat. Sebaiknya hasil tes ini dikombinasikan dengan metode seleksi lainnya.

4. PAPI Kostick

PAPI Kostick merupakan tes kepribadian yang dirancang khusus untuk menggambarkan perilaku seseorang di lingkungan kerja. Tes ini banyak digunakan oleh perusahaan di Indonesia dalam proses rekrutmen.

Aspek yang dinilai meliputi motivasi kerja, kepemimpinan, kemampuan mengambil keputusan, hubungan dengan atasan, hingga cara berinteraksi dengan rekan kerja.

Karena berfokus pada konteks pekerjaan, hasil PAPI Kostick relatif mudah dikaitkan dengan kebutuhan suatu jabatan.

5. 16 Personality Factors (16PF)

16PF merupakan tes kepribadian calon karyawan yang mengukur enam belas faktor kepribadian untuk memberikan gambaran karakter seseorang secara lebih rinci.

Tes ini sering digunakan untuk menilai kemampuan interpersonal, kestabilan emosi, cara berpikir, hingga gaya kepemimpinan kandidat. Informasi tersebut dapat membantu HR memahami potensi seseorang di lingkungan kerja.

Selain rekrutmen, 16PF juga banyak dimanfaatkan untuk pengembangan karier, coaching karyawan, dan perencanaan suksesi karyawan.

6. EPPS (Edwards Personal Preference Schedule)

EPPS berfokus pada kebutuhan dan motivasi yang mendorong perilaku seseorang dalam bekerja. Tes ini mengukur berbagai aspek, seperti kebutuhan berprestasi, kepemimpinan, kemandirian, hingga kemampuan bekerja sama.

Melalui hasil EPPS, perusahaan dapat memperoleh gambaran mengenai faktor yang memotivasi kandidat dalam menjalankan pekerjaannya.

Meskipun tidak selalu digunakan sebagai tes utama, EPPS sering menjadi pelengkap dalam proses tes psikologi kerja.

7. Tes Proyektif

Tes proyektif merupakan asesmen yang meminta kandidat menggambar atau menyelesaikan gambar tertentu. Contoh yang cukup dikenal adalah Wartegg, Baum Test, Draw a Person (DAP), dan House-Tree-Person (HTP).

Berbeda dengan tes berbasis kuesioner, hasil tes proyektif memerlukan interpretasi dari psikolog yang memiliki kompetensi. Oleh karena itu, penggunaannya umumnya dilakukan dalam rangkaian psikotes yang lebih lengkap.

Tes ini biasanya berfungsi sebagai pelengkap untuk membantu memahami karakter, cara berpikir, atau respons emosional kandidat, bukan sebagai satu-satunya dasar dalam menentukan hasil rekrutmen.

Tabel Perbandingan Jenis Tes Kepribadian Calon Karyawan

Jenis TesFokus PenilaianPaling Cocok UntukCatatan
Big Five (OCEAN)Lima dimensi kepribadian, seperti keterbukaan, kedisiplinan, dan stabilitas emosiRekrutmen berbagai posisi dan prediksi performa kerjaMemiliki dasar penelitian yang kuat dan banyak digunakan dalam psikologi kerja.
DISCGaya perilaku dan cara berinteraksiPosisi yang membutuhkan komunikasi, pelayanan, penjualan, atau kepemimpinanMudah dipahami dan sering digunakan untuk pengembangan tim.
MBTIPreferensi kepribadian dan gaya bekerjaPengembangan karyawan, team building, dan pelatihanSebaiknya tidak dijadikan satu-satunya alat seleksi kandidat.
PAPI KostickPerilaku, motivasi, dan preferensi dalam bekerjaSeleksi karyawan, promosi jabatan, dan pemetaan potensiDirancang khusus untuk konteks dunia kerja.
16PFEnam belas faktor kepribadianRekrutmen, pengembangan kepemimpinan, dan asesmen potensiMemberikan profil kepribadian yang lebih mendalam.
EPPSMotivasi dan kebutuhan psikologisPsikotes sebagai pelengkap proses seleksiMembantu memahami faktor yang mendorong perilaku kerja kandidat.
Tes ProyektifKarakter, pola pikir, dan respons emosionalPsikotes yang dilakukan oleh psikologHasil bersifat interpretatif sehingga digunakan sebagai asesmen pendukung.

Hal yang Perlu Diperhatikan agar Tes Memberikan Hasil Akurat

tes kepribadian calon karyawan

Tes kepribadian dapat membantu perusahaan mengenal kandidat lebih dalam. Namun, hasilnya perlu dipahami secara bijak agar tidak menimbulkan kesimpulan yang keliru. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menggunakan tes kepribadian calon karyawan dalam proses rekrutmen.

Baca Juga: 5 Jenis Form Onboarding Karyawan Baru yang Perlu Disiapkan HR

  1. Jangan jadikan hasil tes satu-satunya acuan: Agar keputusan rekrutmen lebih akurat, hasilnya sebaiknya dikombinasikan dengan wawancara, tes kompetensi, serta pengalaman kerja kandidat.
  2. Pilih jenis tes yang sesuai: Setiap tes memiliki tujuan yang berbeda. Oleh karena itu, pastikan instrumen yang digunakan benar-benar relevan dengan kompetensi, karakter, dan tuntutan pekerjaan yang sedang direkrut.
  3. Pahami pengaruh jawaban kandidat: Sebagian kandidat bisa memberikan jawaban yang dianggap paling sesuai dengan harapan perusahaan atau berdasarkan kondisi tertentu saat tes. Oleh sebab itu, hasil tes perlu dianalisis secara menyeluruh, bukan hanya berdasarkan skor akhir.
  4. Hindari bias rekrutmen: Tes kepribadian sebaiknya digunakan untuk memahami karakter kerja, bukan untuk mendiskriminasi kandidat. Setiap hasil perlu diinterpretasikan secara objektif dan disesuaikan dengan kebutuhan posisi.
  5. Libatkan profesional: Beberapa jenis tes, terutama tes proyektif, memerlukan interpretasi dari psikolog yang kompeten di bidangnya. Hal ini membantu memastikan hasil asesmen lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Cara Menerapkan Tes Kepribadian Calon Karyawan secara Efektif

Banner Aplikasi Rekrutmen Karyawan Online Berbasis Web dan Applicant Tracking System (GATS)

Berikut beberapa cara menerapkan tes kepribadian calon karyawan secara efektif:

  1. Tentukan karakter yang dibutuhkan: Mulailah dari job description dan kompetensi yang dibutuhkan. Misalnya, posisi customer service butuh kemampuan komunikasi dan empati, sedangkan analis membutuhkan ketelitian dan skill berpikir logis.
  2. Pilih jenis tes yang paling relevan: Gunakan instrumen yang sesuai dengan tujuan rekrutmen. Perusahaan juga dapat mengkombinasikan beberapa jenis tes untuk memperoleh gambaran kandidat yang lebih menyeluruh.
  3. Lakukan tes pada tahap seleksi yang tepat: Umumnya, tes kepribadian dilakukan setelah proses screening CV dan sebelum wawancara akhir. Dengan cara ini, HR dapat lebih fokus mengevaluasi kandidat yang telah memenuhi kualifikasi dasar.
  4. Analisis hasil bersama metode seleksi lainnya: Jangan menilai kandidat hanya dari hasil tes. Bandingkan hasil asesmen dengan pengalaman kerja, kemampuan teknis, hasil wawancara, serta referensi apabila diperlukan.
  5. Simpan dan dokumentasikan hasil asesmen: Dokumentasikan hasil untuk mudah membandingkan kandidat. Selain itu, data tersebut juga dapat menjadi referensi apabila kandidat dipertimbangkan untuk posisi lain di kemudian hari.

Salah satu tantangan yang sering dihadapi tim HR adalah menyimpan seluruh data rekrutmen dalam satu tempat. Ketika hasil tes, CV, catatan wawancara, dan dokumen pendukung tersebar di berbagai email atau spreadsheet, proses evaluasi menjadi kurang efisien. 

Oleh karena itu, banyak perusahaan mulai memanfaatkan aplikasi rekrutmen berbasis Applicant Tracking System (ATS) agar seluruh informasi kandidat tersimpan secara terpusat dan lebih mudah dikelola.

Optimalkan Rekrutmen dengan Modul GATS dari Gadjian

GATS by Gadjian

Menggunakan tes kepribadian calon karyawan akan lebih efektif jika seluruh data rekrutmen tersimpan dalam satu sistem. Ketika hasil asesmen, CV, catatan wawancara, dan penilaian kandidat tersebar di berbagai channel, proses evaluasi menjadi lebih lambat dan berisiko menimbulkan bias.

Melalui Gadjian Applicant Tracking System (GATS), perusahaan dapat mengelola seluruh tahapan rekrutmen secara digital dalam satu platform berbasis cloud. Mulai dari mempublikasikan lowongan, mengumpulkan lamaran, menyimpan data kandidat, hingga memantau progres seleksi dapat dilakukan secara terpusat.

Beberapa fitur GATS yang membantu proses rekrutmen antara lain:

  1. Database kandidat terpusat, sehingga CV, hasil tes, dan catatan wawancara tersimpan rapi dalam satu profil kandidat.
  2. Pipeline rekrutmen mudah dipantau, sehingga HR dapat melihat posisi setiap kandidat pada tahapan seleksi secara real-time.
  3. Kolaborasi tim rekrutmen, yang memudahkan HR, user, dan hiring manager memberikan penilaian maupun feedback dalam satu platform.
  4. Proses rekrutmen berbasis cloud, sehingga seluruh tahapan seleksi dapat diakses kapan saja dan dari mana saja.

Tidak hanya membantu proses rekrutmen, GATS juga terintegrasi dengan ekosistem HRIS Gadjian. Setelah kandidat diterima, perusahaan dapat melanjutkan pengelolaan SDM melalui fitur payroll otomatis, absensi, cuti, hingga pemantauan kinerja tanpa perlu berpindah aplikasi.

Jika kamu ingin menjalankan proses seleksi yang lebih objektif dan praktis, GATS dapat menjadi solusi yang tepat. Coba free trial Gadjian selama 14 hari dan rasakan kemudahan mengelola rekrutmen dalam satu platform yang terintegrasi!

Aplikasi Penggajian

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Perusahaan menggunakan tes kepribadian untuk memahami karakter, kecenderungan perilaku, dan gaya kerja kandidat. Ini membantu HR dalam pengambilan keputusan yang lebih objektif dan mengurangi risiko salah memilih kandidat.

Manfaat tes kepribadian termasuk membantu pengambilan keputusan rekrutmen yang lebih objektif, mengurangi risiko salah pilih kandidat, mendukung wawancara dengan pertanyaan terarah, dan meningkatkan peluang mendapatkan karyawan yang lebih cepat beradaptasi.

Tes kepribadian sebaiknya digunakan ketika posisi membutuhkan soft skill tertentu, kesesuaian dengan budaya perusahaan menjadi prioritas, jumlah pelamar sangat banyak, atau perusahaan mengalami turnover karyawan tinggi.

Jenis tes kepribadian yang umum digunakan termasuk Big Five (OCEAN), DISC, MBTI, PAPI Kostick, 16 Personality Factors (16PF), EPPS, dan tes proyektif.

Untuk menerapkan tes kepribadian secara efektif, perusahaan harus menentukan karakter yang dibutuhkan, memilih jenis tes yang relevan, melakukan tes pada tahap seleksi yang tepat, dan menganalisis hasil bersama metode seleksi lainnya.

Tidak, hasil tes kepribadian sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya dasar dalam menentukan kandidat. Hasilnya harus dikombinasikan dengan metode seleksi lain seperti wawancara dan penilaian kompetensi.

Perlu diperhatikan agar hasil tes tidak menjadi satu-satunya acuan, memilih jenis tes yang sesuai, memahami pengaruh jawaban kandidat, menghindari bias rekrutmen, dan melibatkan profesional untuk interpretasi hasil.

Tes proyektif adalah asesmen yang meminta kandidat menggambar atau menyelesaikan gambar tertentu. Hasilnya memerlukan interpretasi dari psikolog dan biasanya digunakan sebagai pelengkap dalam psikotes yang lebih lengkap.

Tes Big Five (OCEAN) mengukur lima dimensi kepribadian: Openness, Conscientiousness, Extraversion, Agreeableness, dan Neuroticism, yang memberikan gambaran tentang cara kandidat bekerja dan berinteraksi.

EPPS (Edwards Personal Preference Schedule) mengukur kebutuhan dan motivasi yang mendorong perilaku seseorang dalam bekerja. Ini sering digunakan sebagai pelengkap dalam proses seleksi untuk memahami faktor yang memotivasi kandidat.

Baca Juga Artikel Lainnya