Menghitung Labor Turnover atau Turnover Rate Karyawan, Pentingkah?

Pemimpin perusahaan mungkin akan mengeluh ke HR apabila banyak top talent memutuskan mengundurkan diri (resign). Bagi pengusaha, ini bukan saja pemborosan anggaran rekrutmen, tetapi juga kerugian jika karyawan bersangkutan memutuskan pindah ke perusahaan kompetitor.

HR memang punya tugas untuk mengupayakan agar labor turnover (LTO) tetap rendah. Turnover rate adalah tingkat perputaran karyawan yang digambarkan dengan persentase pekerja yang tidak lanjut bekerja di perusahaan dalam satu periode tertentu.

Semakin tinggi turnover, berarti semakin banyak karyawan yang keluar perusahaan. Begitu juga sebaliknya. Keluarnya karyawan dari perusahaan antara lain karena memasuki usia pensiun, mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK), dan mengundurkan diri (resign).

Baca Juga: 7 Manfaat Demografi Karyawan dalam Membuat Strategi HR Perusahaan

Tentu saja yang menjadi perhatian HR adalah karyawan yang resign secara sukarela (voluntary). Banyak hal yang menyebabkan karyawan resign, namun secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua:

1. Alasan yang tidak terkait pekerjaan, seperti ikut suami pindah kota tempat dinas, melanjutkan pendidikan, dan mengurus bayi/anak.

2. Alasan yang terkait pekerjaan, seperti gaji yang tidak memuaskan, jenjang karir yang tidak pasti, manajer yang diskriminatif, tim kerja tidak suportif, dan lingkungan kerja yang buruk.

Apabila banyak karyawan yang berhenti karena alasan yang kedua, berarti mereka merasa tidak puas dan tidak terlibat (enganged) dalam organisasi perusahaan. Engagement yang rendah juga berarti loyalitas karyawan rendah. Akibatnya, karyawan mudah “lompat” ke perusahaan lain yang menawarkan apa yang tidak diberikan oleh perusahaan sebelumnya.

Bagi HR, sangat penting menghitung turnover rate karyawan di perusahaan. Manfaatnya antara lain:

1. Sebagai indikator kepuasan karyawan terhadap perusahaan

Turnover berkaitan erat dengan tingkat kepuasan karyawan bekerja di perusahaan atau menjadi bagian dari organisasi. Dengan mengetahui tinggi rendahnya turnover dalam satu periode tertentu, HR dapat menilai apakah karyawan puas dengan apa yang diberikan perusahaan selama ini, dari mulai gaji hingga suasana kerja di kantor.

Jika turnover rate tinggi, maka HR perlu mencari tahu apa yang paling membuat karyawan tidak puas bekerja di perusahaan, lalu menyusun strategi yang tepat untuk memperbaikinya.

2. Mengukur efektivitas strategi engagement

HR dapat mengetahui apakah terjadi penurunan atau kenaikan turnover rate dalam periode tertentu setelah penerapan strategi untuk membuat karyawan lebih bahagia, seperti melalui kompensasi, benefit, maupun reward yang bersifat intangible. Salah satu ukuran keberhasilan peningkatan employee engagement adalah meningkatnya retensi karyawan, sehingga turnover rate menurun.

Turnover rate dapat dihitung dengan dua metode, yaitu metode LTO tahunan dan metode LTO bulanan. LTO tahunan adalah persentase pegawai yang tidak lanjut dalam periode waktu tahunan. Sedangkan LTO bulanan merupakan persentase pegawai yang tidak lanjut di perusahaan dalam periode waktu bulanan.

Selain itu, HR juga dapat menghitung first year turnover, yaitu rasio jumlah karyawan yang tidak lanjut dengan masa kerja kurang dari setahun terhadap jumlah keseluruhan karyawan yang tidak lanjut pada periode yang sama.

Mana metode hitung LTO yang terbaik? Tentu saja jawabannya tergantung kebutuhan setiap perusahaan.

Apabila perusahaan memiliki periode tutup buku dalam periode kurang dari 1 tahun, maka lebih baik menggunakan metode LTO bulanan. Metode ini juga cocok bagi perusahaan yang mempekerjakan karyawan musiman atau karyawan kontrak berdasarkan waktu tertentu yang kurang dari 1 tahun.

Sementara, jika perusahaan mengunakan periode tutup buku 12 bulan, maka lebih tepat menggunakan metode LTO tahunan, termasuk apabila mempekerjakan karyawan PKWT yang masa kontraknya 1 tahun atau lebih.

Merumuskan strategi engagement yang tepat perlu mempertimbangkan demografi karyawan perusahaan. Jika perusahaan didominasi karyawan Millennials atau Generasi Y, maka kebutuhannya berbeda dengan Generasi X. Misalnya, Millennials tidak sekedar mengejar gaji dan karir, tetapi juga butuh work-life balance.

Baca Juga: Mengapa Remote Employee Menjadi Andalan Perusahaan Startup?

HR software Gadjian punya fitur analisis kinerja karyawan yang menampilkan demografi pekerja, sehingga dapat diketahui jumlah karyawan yang bekerja di setiap divisi dalam periode waktu tertentu termasuk biaya gajinya. Selain memudahkan HR dalam menghitung turnover rate, informasi di fitur ini juga membantu HR menerapkan strategi meningkatkan engagement yang tepat.

Aplikasi cloud ini juga membantu HR memantau dan menganalisis apakah setiap divisi bekerja sesuai manpower planning (MPP) serta HR budget yang ditetapkan di awal periode. Misalnya, apakah jumlah tenaga kerja (headcount) lebih atau kurang dari rencana.

Mencari payroll system paling efisien? Gadjian solusinya. Dengan biaya berlangganan yang ekonomis, perusahaan dapat menikmati beragam fitur kelola administrasi karyawan yang serba otomatis, dari mulai hitung gaji, hitung lembur, bayar gaji, kelola cuti, kelola BPJS, hingga kalkulasi pajak penghasilan karyawan.

Coba Gadjian Sekarang

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *