Terbaru, Cara Perhitungan BPJS Ketenagakerjaan

Perhitungan BPJS Ketenagakerjaan menjadi pekerjaan rutin HR yang cukup menyita waktu. Menghitung manual tunjangan perusahaan dan potongan BPJS karyawan membutuhkan ketelitian dan tidak boleh keliru, sebab iuran yang akan disetor ke BP Jamsostek harus sesuai dengan upah yang dilaporkan perusahaan. Ada empat jenis iuran program BPJS yang masing-masing memiliki perhitungan berbeda, yaitu Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Kematian, Jaminan Hari Tua, dan Jaminan Pensiun.

Baca Juga: Cara Mencairkan JHT BPJS Ketenagakerjaan Online dan Offline

Peraturan mengenai BPJS juga kerap mengalami perubahan, dari mulai pembaruan hingga kebijakan pemerintah tentang relaksasi iuran. Karena itu, HR dituntut untuk selalu menerapkan perhitungan iuran BPJS terbaru. Misalnya, batas upah tertinggi sebagai dasar perhitungan iuran program Jaminan Pensiun diperbarui setiap tahun mengikuti angka pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) nasional.

Cara perhitungan BPJS Ketenagakerjaan secara umum adalah dengan menghitung iuran program jaminan ke dalam dua kelompok, yaitu tunjangan BPJS yang diberikan perusahaan dan potongan BPJS yang dikurangkan dari gaji bulanan karyawan. Basis pengali perhitungan BPJS adalah upah karyawan, yaitu gaji pokok dan tunjangan tetap. 

Iuran Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK)

Untuk menghitung iuran JKK, perlu diketahui lebih dulu tingkat risiko lingkungan kerja, sektor usaha, atau jenis pekerjaan. Ada lima kategori tingkat risiko lingkungan kerja seperti yang tercantum dalam Pasal 16 PP No 44 Tahun 2015.

Tingkat risiko

Perhitungan iuran JKK

Sangat rendah

0,24% x upah sebulan

Rendah

0,54% x upah sebulan

Sedang

0,89% x upah sebulan

Tinggi

1,37% x upah sebulan

Sangat tinggi

1,74% x upah sebulan


Ketentuannya sebagai berikut:

a. Basis pengali iuran JKK adalah upah sebulan.
b.
Apabila upah dibayar harian, maka upah sebulan dihitung dari upah harian dikalikan 25.
c. Apabila upah dibayar secara borongan atau satuan, maka upah sebulan dihitung dari upah rata-rata 3 bulan terakhir.

Iuran JKK sepenuhnya ditanggung oleh perusahaan atau diberikan dalam bentuk tunjangan JKK, di mana komponen ini sebagai penambah penghasilan bruto karyawan.

Misalnya, seorang karyawan memiliki gaji Rp 10.000.000 bekerja di lingkungan kerja dengan risiko rendah, maka perusahaan membayar tunjangan JKK sebesar:

0,54% x Rp 10.000.000 = Rp 54.000

Iuran Jaminan Kematian (JKM)

Besarnya iuran JKM adalah 0,30% dari upah yang seluruhnya dibayar oleh pemberi kerja/pengusaha melalui tunjangan JKM. Sama dengan JKK, JKM juga termasuk komponen penambah penghasilan bruto yang dikenai pajak penghasilan PPh 21. 

Dengan contoh di atas, maka tunjangan JKM yang harus dibayar perusahaan adalah:

0,30% x Rp 10.000.000 = Rp 30.000

Iuran Jaminan Hari Tua (JHT)

Berbeda dengan JKK dan JKM, iuran JHT dibayar sebagian oleh perusahaan dan sebagian lainnya oleh karyawan sebagai peserta BPJS. Besarnya iuran JHT adalah 5,7% dari upah, dengan ketentuan:

a. 3,7% diberikan oleh perusahaan melalui tunjangan JHT
b.
2% dipotong dari gaji karyawan

Perhitungan iuran JHT untuk contoh di atas adalah:

Tunjangan JHT dari perusahaan: 3,7% x Rp 10.000.000 = Rp 370.000
Potongan JHT dari gaji karyawan: 2% x Rp 10.000.000 = Rp 200.000
Iuran JHT yang harus disetor sebesar Rp 570.000.

Iuran Jaminan Pensiun (JP)

Sejak Maret 2020, batas upah tertinggi sebagai basis pengali iuran Jaminan Pensiun ditetapkan Rp 8.939.700. Artinya, apabila upah melebihi nominal tersebut, dalam perhitungannya dianggap memiliki upah Rp 8.939.700.

Iuran JP ditetapkan sebesar 3% dari upah, dengan ketentuan:

a. 2% diberikan oleh perusahaan melalui tunjangan JP
b. 1% dipotong dari gaji karyawan

Untuk gaji karyawan Rp 10.000.000, maka perhitungan iuran JP seperti berikut:

Tunjangan JP yang dibayar perusahaan: 2% x Rp 8.939.700 = Rp 178.794
Potongan JP dari gaji karyawan: 1% x Rp 8.939.700 = Rp 89.397
Iuran JP yang harus disetor sebesar Rp 268.191

Potongan iuran JHT dan JP dari gaji karyawan dapat menjadi pengurang penghasilan bruto karyawan sebelum dipotong pajak PPh 21.

Contoh perhitungan iuran BPJS di atas dapat dirangkum seperti berikut:

Tunjangan BPJS dari perusahaan

Potongan BPJS dari gaji karyawan

Tunjangan JKK  Rp 54.000

Tunjangan JKM Rp 30.000

Tunjangan JHT Rp 370.000

Potongan JHT Rp 200.000

Tunjangan JP Rp 178.794

Potongan JP Rp 89.397

Total tunjangan BPJS Rp 632.794

Total potongan BPJS Rp 289.397


Jika karyawan Anda cukup banyak dengan skala upah yang beragam, hitung BPJS Ketenagakerjaan bisa menjadi pekerjaan yang melelahkan. Aplikasi payroll Gadjian dapat membantu Anda mengotomatiskan pekerjaan tersebut dengan proses yang cepat dan hasil akurat.

Software berbasis cloud ini memiliki fitur hitung BPJS Online yang menghitung secara efisien tunjangan JKK, JKM, JHT, dan JP yang harus dibayar perusahaan serta potongan JHT dan JP yang dikurangkan dari upah karyawan. Perhitungan BPJS ini secara otomatis masuk dalam kalkulasi gaji karyawan dan hasilnya muncul dalam slip gaji online

Baca Juga: Cara Mencairkan BPJS Ketenagakerjaan 30% dan 100% dengan Mudah

Gadjian sangat fleksibel terhadap perubahan aturan baru BPJS. Anda cukup mengubah menu Pengaturan BPJS di aplikasi dan sistem akan menyesuaikan dengan perhitungan yang baru secara otomatis.

sipp bpjs ketenagakerjaan

Dengan Gadjian, Anda juga lebih mudah melakukan pelaporan BPJS Ketenagakerjaan melalui fitur SIPP BPJS. Tak perlu repot unduh template dan mengisi data manual, aplikasi ini telah menyediakan file yang siap unggah ke SIPP Online.

Gadjian juga mudah digunakan dan diakses dari mana saja, sehingga mendukung perusahaan yang menjalankan work from home selama masa pandemi COVID-19. Selain praktis, software penggajian ini juga efisien dan dapat membantu Anda menghemat biaya kelola administrasi karyawan dan keuangan sebesar Rp 20 juta setahun.

Coba Gadjian Sekarang

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *