Waspada Gejala WFH Burnout dan Bagaimana Mengatasinya

Pandemi COVID-19 membuat banyak orang harus bersabar untuk tetap di rumah dan bekerja dari rumah atau Work from Home (WFH). Kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diperpanjang dan larangan mudik mengakibatkan perusahaan memperpanjang WFH bagi karyawannya. Tindakan ini perlu dilakukan dalam upaya menekan angka penyebaran virus Corona.

Sebagian karyawan mengaku lebih nyaman work from home karena lebih produktif dan efisien dari segi waktu. Namun, work from home berkepanjangan dapat menimbulkan tekanan dan dampak psikologis negatif seperti WFH Burnout. Berasal dari istilah Burnout Syndrome, yaitu kondisi psikologis ketika seseorang merasa lelah secara emosional yang berkepanjangan dan muncul perasaan hampa karena lingkungan kerja yang tidak kondusif.

Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah WFH Burnout:

Alokasikan tempat tersendiri untuk bekerja

Carilah ruang atau lokasi khusus di rumah untuk bekerja. Kamar tidur dapat digunakan untuk menghindar dari anggota keluarga lain atau salah satu sudut ruangan lain yang tenang. Tidak perlu tempat yang luas, cukup dengan meja dan kursi yang nyaman. Jika diperlukan bisa diatur seperti kantor. Dengan demikian akan tercipta lingkungan khusus untuk bekerja dan mood dalam work from home pun terjaga.

Baca Juga: Menaker: Pembayaran THR 2020 Bisa Dicicil dan Ditunda

Biasakan memiliki rutinitas kerja

Godaan utama dalam work from home adalah menunda suatu pekerjaan. Mindset WFH yang kurang tepat adalah ketika seseorang memiliki waktu seharian penuh, sehingga tidak masalah menunda untuk menghubungi klien dan mengambil coffee break hingga berjam-jam. Menghindari hal ini, biasakan untuk membuat rutinitas sehari-hari dalam WFH. Tidak perlu jadwal yang ketat, hal sederhana seperti pagi hari selama 1 jam digunakan untuk membalas email dan membuat to-do-list. Mulailah dari pekerjaan yang menyita waktu sedikit tetapi dikerjakan dengan fokus supaya pekerjaan tidak menumpuk.

Batasan jam kerja yang jelas

Work from Home bukan berarti selalu available. Tidak masalah ketika email dari atasan yang masuk pukul 9 malam kemudian dibalas besok pagi. Atur waktu untuk berhenti bekerja dan tidak menyentuh apapun terkait pekerjaan sampai keesokan harinya.

Give yourself a break

Pandemi COVID-19, physical distancing dan WFH berkepanjangan menjadikan seseorang kewalahan. Utamakan kesehatan fisik dan psikis diri sendiri. Seimbangkan bekerja dengan istirahat dan aktivitas lainnya. Jika dirasa membutuhkan cuti, silahkan mengajukan cuti untuk meluangkan me-time. Sharing dengan keluarga dan teman atau berkonsultasi dengan psikolog bisa menjadi alternatif untuk mengurangi beban pikiran.

Baca Juga: Relaksasi Iuran BPJamsostek Sebesar 10 Persen

Perlu keseimbangan antara pekerjaan dan aktivitas di rumah sehingga produktivitas tetap terjaga. Lakukan kegiatan tambahan yang positif untuk terhindar dari WFH Burnout. Bagi perusahaan, salah satu cara untuk menjaga produktivitas karyawan adalah menggunakan aplikasi absensi. Hadirr memungkinkan perusahaan untuk mencatat kehadiran karyawannya. Fitur clock-in dan clock-out digunakan untuk mencatat kehadiran sehingga karyawan pun memiliki batasan jam kerja yang jelas.

Teknologi face recognition mampu mendeteksi wajah sehingga absensi selfie (swafoto). Global Positioning System (GPS) location Hadirr akan memindai lokasi presensi karyawan saat WFH. Perusahaan dapat memantau produktivitas karyawannya dengan melihat laporan kehadiran dari aplikasi absensi Hadirr. Performa karyawan terjaga, operasional Perusahaan ikut terjaga menggunakan aplikasi absensi Hadirr.

Coba Hadirr Software Aplikasi Absensi Karyawan Online (E-Absen) Terbaik Indonesia

Share