Pengalamanku Work from Home (WFH) Akibat Pandemi Corona

Kebijakan Work from Home (WFH) di masa pandemi coronavirus, menjadikan tantangan tersendiri bagi perusahaan untuk beradaptasi secara cepat dengan pola kerja baru. Implementasi WFH diperkuat dengan pengumuman penerapan status Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta disusul dengan pengumuman PSBB di Jawa Barat, Jawa Timur, dan daerah-daerah lain. Cara kerja baru ini menghasilkan pengalaman yang berbeda-beda bagi karyawan. Tidak terkecuali bagi saya. Berikut ini beberapa pengalaman pribadi saya seputar WFH

1. Masak sembari meeting? Bisa!

Pengalamanku Work from Home (WFH) Akibat Pandemi Corona

“Ting!“ Sontak rekan-rekan kerja saya menyeletuk, “Nin, kue dah mateng tu.” Backsound serupa tidak asing lagi didengar oleh rekan setim saya selama online meeting. Kebijakan WFH dari kantor telah memasuki minggu keenam, memungkinkan saya untuk meningkatkan frekuensi bekerja sekaligus mengerjakan hobi saya membuat kue. Di sela-sela pekerjaan, saya menyempatkan diri untuk memanggang kue di oven, bermain piano atau membaca buku. Tersedianya waktu lebih saat WFH merupakan kemewahan tersendiri. Walaupun online meeting bukan hal baru bagi saya, namun, di saat seperti ini lebih efisien karena tidak perlu berkendara untuk pindah lokasi.

2. Ulang tahun virtual

Pengalamanku Work from Home (WFH) Akibat Pandemi Corona

Physical distancing bukan berarti mengurangi porsi untuk bersosialisasi. Cara virtual seperti video conferencing merupakan salah satu opsi untuk berkomunikasi dalam konteks pekerjaan maupun kasual sehari-hari. Hasil riset Apptopia untuk situs Bloomberg Opinion menyatakan bahwa aplikasi video conferencing seperti Zoom merupakan salah satu bisnis yang meroket sejak awal pandemi. Hal menarik yang saya alami saat WFH adalah kejutan ulang tahun virtual. Sehari menjelang ulang tahun, saya diajak salah satu rekan untuk product pitching. “Kak, besok jam 11 ada meeting gak? Bisa join meeting dong.” ajak rekan saya. Tanpa ada prasangka apapun, saya mengiyakan ajakannya. Ternyata ketika meeting dimulai, wajah familiar bermunculan satu-persatu. “Kalian ini ya, aku udah nyiapin buat meeting serius!” Alhasil, online meeting pun gagal.

Baca Juga: Peluang Bisnis di Tengah Pandemi Covid-19

3. Mengenakan pakaian kerja yang “tidak sesuai”

Pengalamanku Work from Home (WFH) Akibat Pandemi Corona

Karena selama masa WFH pekerjaan dilakukan di rumah atau kost, maka atmosfer dalam bekerja pun mengikuti tempat bekerja. Saya biasanya mengenakan baju kantor dengan style kasual dan make-up minimalis. Kondisi sekarang dimana meeting hanya dilakukan melalui tatap muka online, saya pun hanya berdandan tetapi mengenakan celana pendek dengan atasan sedikit formal. Pada suatu meeting saya tidak sengaja berdiri dan pindah untuk mengambil air minum. Kontan “pakaian kerja” saya yang hanya celana pendek terlihat di layar laptop. Untung saja klien sesama wanita dan usia sebaya. “Mbak Nina, pakai garis-garis putih biru ya?” Runtuhlah harga diri saya siang itu.   

Menjaga kedisiplinan dan produktivitas kerja adalah panduan utama dalam WFH, apapun upaya yang dilakukan oleh karyawan. Bagi perusahaan perlu adanya tools untuk memantau kinerja karyawan, salah satunya adalah dengan aplikasi absensi Hadirr.

Pencatatan presensi Hadirr mobile attendance dengan melakukan selfie pada smartphone dan dilengkapi dua fitur validasi, yaitu Global Positioning System (GPS) untuk memindai lokasi presensi karyawan, serta dan deteksi wajah (face recognition) supaya hasil pencatatan presensi lebih akurat. Work from Home di tengah pandemi yang awalnya hampir tidak mungkin menjadi mungkin dan lebih praktis karena adanya aplikasi absensi Hadirr.

Coba Hadirr Sekarang | Software Aplikasi Absensi Karyawan di Android Dan iOS Hanya Dengan Selfie

 

Writer: Haunina K. Sari
Editor: Radika K. Cahyadi

Share