Startup yang Terdampak COVID-19

COVID-19 yang terjadi sudah cukup lama berdampak ke berbagai sektor. Pendapatan sebagian besar perusahaan menurun karena daya beli masyarakat yang menurun juga. Tak sedikit juga perusahaan telah mem-PHK karyawannya. Hal tersebut dapat terjadi akibat perusahaan kesulitan untuk membiayai pengeluaran operasional. 

Baca Juga: 5 Startups with Permanent Work from Home Policy in COVID-19’s New Normal

Banyak upaya yang dilakukan pemerintah guna meredam imbas dari virus corona, yaitu dengan memberikan keputusan bahwa pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) Keagaman  dapat dicicil maupun ditunda, membebaskan PPH-21 karyawan untuk beberapa sektor industri dan saat ini mulai menerapkan transisi new normal. Hal tersebut dilakukan pemerintah agar perekonomian tidak semakin terpuruk.

Walaupun pemerintah sudah melakukan banyak hal guna meredam imbas pandemi ini, namun ternyata terdapat beberapa startup yang tidak dapat bertahan, antara lain:

Airy

Airy merupakan perusahaan teknologi jaringan operator hotel yang bermitra dengan hotel budget di seluruh Indonesia dan menyediakan layanan pemesanan tiket pesawat dengan fokus perjalanan domestik di Indonesia. Dan kita ketahui bahwa sektor pariwisata merupakan sektor yang paling terdampak. 

Airy pun sudah melakukan upaya terbaik untuk mengatasi dampak virus corona ini. Namun  ternyata tetap terjadi penurunan teknis dan pengurangan sumber daya manusia yang signifikan. Sehingga membuat Airy harus menghentikan operasional bisnis secara permanen per tanggal 31 Mei 2020

Uber

Selain Airy, startup terdampak COVID-19 adalah Uber. CEO Uber Dara Khosrowshahi menyatakan bahwa COVID-19 membuat dunia transportasi khususnya bisnis ride-sharing turun. Sehingga Uber harus mem-PHK 3.700 karyawannya. Padahal di tahun sebelumnya dibulan yang sama Uber bisa mengantongi pendapatan yang lebih tinggi. 

Ternyata tak semua bisnis startup mengalami kehancuran akibat corona. Startup e-commerce seperti Tokopedia, Shopee dan Bukalapak mengalami kenaikan angka penjualan yang cukup signifikan. Akibat sebelumnya terdapat penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) pembelanjaan secara online meningkat untuk kategori pembelanjaan sembako, kesehatan maupun hobi. 

Beberapa startup di bidang teknologi maupun software pun mengalami kenaikan atau dikatakan cukup stabil. Karena di saat pandemi saat ini, rata-rata perusahaan tetap menerapkan work from home sehingga membuat perusahaan tersebut memerlukan tools yang dapat menunjang pekerjaan.

Salah satu startup terdampak COVID-19 yang bisa bertahan adalah PT. Fatiha Sakti (Fast-8 Group) yang merupakan startup penyedia aplikasi penggajian online Gadjian dan aplikasi absensi online Hadirr

Gadjian merupakan HR & payroll software yang dapat mengintegrasikan keseluruhan data karyawan sehingga memudahkan HR melakukan update data terbaru dari tiap karyawan. Aplikasi penggajian Gadjian dapat menganalisis kinerja dan biaya gaji, sehingga sangat efisien untuk menghitung gaji karyawan setiap bulan, dengan memasukkan semua komponen seperti gaji pokok, tunjangan, lembur, bonus, THR, BPJS, dan PPh 21. Sistem hitung otomatis membuat aplikasi ini minim kesalahan. Serta dapat digunakan juga untuk mengelola cuti dan izin/ sakit

Baca Juga: Maraknya Startup yang Beralih ke HRIS Cloud untuk Mengurangi Operating Cost

Selain Gadjian terdapat juga Hadirr, aplikasi absensi online berbasis cloud membantu perusahaan Anda untuk mengelola absensi karyawan. Hadirr mencatat kehadiran karyawan dengan fitur clock-in dan clock-out dimana karyawan cukup melakukan absen selfie (swafoto) pada smartphone pribadi masing-masing. Presensi akan tercatat berdasarkan validasi face recognition dan GPS location.

Coba Gadjian Sekarang

Coba Hadirr Software Aplikasi Absensi Karyawan Online (E-Absen) Terbaik Indonesia

Writer: Diyan Faranayli

Share