Work from Home di Masa Pandemi Corona dari Kacamata Ekstrovert dan Introvert

Pandemi Corona memaksa penduduk dunia berdiam di rumah dan membatasi aktivitas sosial, bahkan untuk pergi ke tempat kerja. Tagar yang trending di media sosial seperti #WorkfromHome, #WFH, #StayatHome, dan #Dirumahaja menjadi new normal bagi perusahaan akibat kebijakan lockdown dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Berbagai macam candaan seperti “WFH adalah surga bagi introvert, neraka bagi ekstrovert” pun bermunculan. Psikolog ternama Swiss, Carl Jung, pada tahun 1921 mempopulerkan istilah tersebut untuk membagi kepribadian dasar manusia menjadi dua spektrum. Keduanya dibedakan berdasarkan bagaimana mereka mendapatkan “energi”. Extrovert memilih bersosialisasi dengan sekelompok besar orang, sedangkan introvert memilih untuk menghabiskan waktu sendiri atau dengan sekelompok kecil orang.

Perlu ditekankan bahwa kondisi work from home sekarang ini di bawah pengaruh kecemasan dan ketidakpastian. Berikut hal-hal positif dan negatif WFH bagi kedua kepribadian.

Introvert

Bagi Anda yang memiliki sifat Introvert kebijakan WFH merupakan “blessing in disguise” di tengah pandemi Corona. Gangguan di tempat kerja akan berkurang ketika bekerja di rumah. Akibatnya, lebih banyak waktu menyendiri untuk memproses informasi sehingga feedback dan target pekerjaan yang diselesaikan lebih maksimal. Remote meeting memberikan keuntungan bagi introvert karena terencana dan tidak perlu bertatap muka langsung. Anda akan memiliki waktu untuk memproses ide sehingga dapat merubah ide tersebut menjadi rencana yang dapat dieksekusi.

Baca Juga: Bisnis Logistik, Meraih Cuan di Masa Pandemi Corona

Namun, bagaimana jika WFH berlangsung sampai berbulan-bulan ? Interaksi manusia secara langsung hampir tidak ada bagi mereka yang tinggal sendiri. Kondisi berkepanjangan di satu seperti ini dapat membuat introvert lebih menarik diri dari interaksi manusia. Bekerja secara kolaborasi dalam tim pun dianggap mimpi buruk ketika kegiatan kerja sudah normal kembali.

Extrovert

Desain kantor berupa open space menjadi tren saat ini, yang digadang-gadang sebagai extrovert-oriented. Namun, apakah extrovert dapat bertahan dengan kondisi WFH ? Sisi positif dari WFH bagi Anda yang extrovert adalah banyaknya waktu bonding dengan keluarga. Extrovert juga dapat mengeksplorasi hal baru seperti mengeksplorasi cara bersosialisasi menggunakan video conferencing seperti Zoom, Microsoft Teams dan Google Hangout Meet. Para extrovert lebih “tertantang” dengan adanya media baru, sehingga meeting pun menjadiZoom happy hours”.

Minimnya stimulus bersosialisasi dan aktivitas sosial dapat menimbulkan kecemasan dan tekanan bagi extrovert. WFH yang berkepanjangan menimbulkan tekanan bagi keduanya, tapi ambang batas extrovert cenderung lebih rendah jika tidak diimbangi dengan interaksi sosial dan kegiatan lainnya. Kepribadian extrovert lebih menyukai interaksi sosial secara langsung.

Apapun kepribadian karyawan di dalamnya, perusahaan pasti menekankan untuk menjaga produktivitas kinerja saat WFH. Dibutuhkan disiplin waktu agar produktivitas saat work from home tidak berkurang, salah satunya dengan menggunakan aplikasi absensi Hadirr. Pencatatan kehadiran menjadi lebih mudah dengan mobile attendance Hadirr karena karyawan hanya perlu swafoto (selfie) menggunakan smartphone. Validasi dengan face recoginition dan GPS location akan mengenali wajah dan lokasi presensi.

Baca Juga: 5 Jenis Aplikasi Penting untuk Work From Home (WFH)

Pemantauan kinerja karyawan saat WFH akan lebih efisien. Laporan data kehadiran yang dihasilkan bisa di-download sehingga memudahkan Perusahaan memonitor absensi dan presensi karyawan. Jadi, apakah Perusahaan Anda sudah menggunakan Hadirr?

Aplikasi Absensi Online Hadirr

Writer: Haunina K. Sari
Editor: Radika K. Cahyadi

Share