Perhitungan Gaji Prorata sesuai Depnaker (Gaji Prorate atau Proporsional)

Banyak karyawan baru yang masuk kerja di hari pertamanya tidak di awal bulan, tetapi di tengah atau akhir bulan. Salah satu sebabnya, perusahaan sangat membutuhkan karyawan yang bersangkutan untuk segera menyelesaikan pekerjaan kantor yang sifatnya mendesak, sehingga tak bisa menunggu hingga awal bulan.

Begitu juga mereka yang mengundurkan diri (resign), adakalanya karyawan tidak selalu  mengakhiri hari kerja di perusahaan tepat di penghujung bulan. Jika itu terjadi di perusahaan Anda, apakah Anda akan memberinya gaji penuh sebulan padahal mereka bekerja tak genap sebulan? Tentu tidak, kan? Lalu, bagaimana cara menghitungnya?

Payroll Sofware Indonesia untuk Mengeloala Keuangan dan Karyawan Perusahaan | Gadjian

Bagi karyawan yang bekerja tidak penuh sebulan, Anda dapat menggunakan perhitungan gaji proporsional atau biasa disebut gaji prorate (prorata). Sebenarnya, Undang-Undang Ketenagakerjaan tidak mengatur cara menghitung gaji prorata ini, tetapi hanya mengatur soal menghitung upah per jam. Umumnya, ada 3 (tiga) metode perhitungan gaji prorata yang banyak digunakan perusahaan:

  1. Metode perhitungan berbasis kalender
  2. Metode perhitungan berbasis hari kerja dalam periode tertentu
  3. Metode perhitungan jam kerja

Berikut adalah contoh metode perhitungan gaji prorata menggunakan metode perhitungan jam kerja:

Cara Menghitung Gaji Prorata (Gaji Prorate atau Gaji Proporsional) | Gadjian

Rumus upah per jam sesuai UU Ketenagakerjaan adalah:

Cara Menghitung Upah per Jam sesuai UU Ketenagakerjaan | Gadjian

————————————————————————————————————————————————

Gaji Prorata = Upah per Jam x Jumlah Jam Kerja per Hari x Jumlah Hari

————————————————————————————————————————————————

Contoh 1:

Fahmi memulai hari kerja pertamanya sebagai staf keuangan di sebuah perusahaan mulai tanggal 20 Maret 2018, dengan gaji Rp 5.000.000 (termasuk tunjangan), dengan sistem 5 hari kerja. Ia menggantikan karyawan sebelumnya, Farid, yang mengundurkan diri per 19 Maret 2018 dengan gaji Rp 4.500.000. Bagaimana menghitung gaji mereka bulan Maret?

Fahmi bekerja 20-31 Maret 2018, yakni 9 hari (8 jam per hari).
Upah per Jam = Rp 5.000.000 x 1/173 = Rp 28.902
Upah Fahmi (Maret) = Rp 28.902 x 8 jam x 9 hari = Rp 2.080.944

Farid bekerja 1-19 Maret 2018, yakni 13 hari (8 jam per hari).
Upah per Jam = Rp 4.500.000 x 1/173 = Rp 26.012
Upah Farid (Maret) = Rp 26.012 x 8 jam x 13 hari = Rp 2.705.248

Contoh 2:

Heru mulai bekerja sebagai desainer grafis di sebuah penerbit besar di Jakarta sejak 16 Maret 2018, dengan sistem 6 hari kerja, dengan gaji Rp 4.000.000 (termasuk tunjangan). Bagaimana perhitungan gajinya di bulan Maret?

Heru bekerja 16-31 Maret, yakni 14 hari (Senin-Jumat 7 jam, Sabtu 5 jam)
Tanggal 17, 24, 31 Maret hari Sabtu (3 hari kerja dengan 5 jam dan 11 hari kerja dengan 7 jam)
Upah per jam = Rp 4.000.000 x 1/173 = Rp 23.121
Upah Heru (Maret) = (Rp 23.121 x 7 jam x 11 hari) + (Rp 23.121 x 5 jam x 3 hari) = Rp 2.127.132

Selain menghitung upah karyawan yang bekerja tak penuh sebulan, perhitungan prorata juga bisa diterapkan untuk menghitung gaji karyawan paruh waktu, serta upah lembur. Prinsipnya sama, yakni tetap menggunakan upah per jam sebagai dasar perhitungan, kemudian dikalikan dengan jumlah jam kerja.

Baca Juga: Perbedaan Cara Hitung Gaji Karyawan Tetap dan Karyawan Tidak Tetap

Soal hitung-menghitung memang cukup memusingkan pekerjaan divisi HR, menuntut ketelitian, dan menyita banyak waktu. Namun, dengan aplikasi HRIS Gadjian, HR software yang didesain untuk membantu Anda menghitung gaji karyawan secara otomatis–termasuk potongan PPh 21, iuran BPJS, upah lembur–yang semuanya akan tercetak dalam slip gaji online, pekerjaan hitung-menghitung menjadi mudah, akurat, dan efisien. Jadi, Anda bisa menghemat banyak waktu untuk menyelesaikan tugas-tugas Anda lainnya.

Payroll Software Indonesia Untuk Mengelola Keuangan & Karyawan Perusahaan, termasuk perhitungan PPh 21, perhitungan BPJS, dan perhitungan lembur | Gadjian

 

Bagikan artikel ini:

Share