6 Strategi Cerdik dalam Mengurangi Jam Lembur Karyawan ala Jepang

“Ini sudah jam 4 pagi. Badanku gemetar. Aku seperti mau mati.”

Tidak berapa lama, si karyawan yang menuliskan kalimat di atas benar-benar melompat dari gedung dan akhirnya mati. Matsuri Takahashi, nama karyawan itu. Karyawan biro perikalanan Dentsu di Jepang itu dikabarkan bunuh diri karena lembur selama 159 jam dalam kurun waktu 1 bulan. Dalam istilah masyarakat Jepang, peristiwa meninggalnya Matsuri Takahashi disebut dengan karoshi atau meninggal karena kelebihan kerja.

Menengok sejenak ke negeri kita sendiri, pemerintah telah mengatur masalah perhitungan lembur karyawan ini dalam Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor KEP. 102 MEN VI Tahun 2004. Aturan lembur di Indonesia ditetapkan, yaitu ketika jam kerja karyawan melebihi waktu 40 jam seminggu, maka saat itulah karyawan disebut bekerja lembur. Peraturan ini dibuat untuk membatasi jam kerja karyawan dan menjamin hak-hak karyawan yang melakukan kerja lembur untuk mendapatkan insentif yang adil.

Hitung Upah Lembur Karyawan Otomatis | Gadjian

Bagi masyarakat Jepang yang terkenal mempunyai akar budaya kerja keras, workaholic disebut memiliki andil besar dalam meningkatnya jumlah karyawan yang meninggal karena kelebihan kerja ini. Selain bunuh diri, karoshi di Jepang juga disebabkan bekerja terlalu keras yang berujung pada serangan jantung dan stroke.

Mau tak mau, isu mengenai work-life balance menjadi pembahasan yang hangat di negara tersebut. Beberapa strategi pun diterapkan, baik oleh pemerintah maupun swasta, untuk mengurangi angka karoshi dan mendorong para karyawan di Jepang memiliki hidup yang lebih berkualitas.

1. Regulasi Pembatasan Waktu Lembur

Sebuah panel yang dipimpin langsung oleh Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, merespon isu kelebihan jam kerja itu dengan mengajukan level maksimal jam lembur  di Jepang adalah 100 jam sebulan. Meski banyak orang yang belum puas dan tidak sepakat dengan hasil kerja panel tersebut, namun perdana menteri sendiri menyebut pembatasan jam lembur ini sebagai sebuah langkah bersejarah yang akan mengubah cara warga Jepang dalam menyikapi pekerjaan mereka.

2. Premium Friday Campaign

Pemerintahan Jepang di bawah Perdana Menteri Shinzo Abe ini juga mengkampanyekan Premium Friday (Jumat Premium), di mana perusahaan-perusahaan didorong untuk membiarkan karyawannya pulang lebih awal pada Jumat terakhir setiap bulan.

3. Insentif untuk Karyawan yang Pulang Lebih Awal

Program Premium Friday disambut baik, salah satunya oleh perusahaan kehumasan, Sunny Side Up Inc. Bahkan, perusahaan Sunny Side Up Inc memberikan insentif untuk karyawan yang pulang lebih awal. Insentif tesebut berupa uang tunai 3.200 yen atau sekitar Rp 380.000 bagi karyawan yang pulang sekitar jam tiga sore. CEO Sunny Side Up Inc. meyakini, keseimbangan hidup karyawannya akan meningkatkan produktivitas dan kreativitas karyawan.

4. Alarm Tanda Saatnya Pulang Kantor

Berbeda dengan Sunny Side Up Inc. yang mendorong karyawannya pulang awal dengan iming-iming insentif, kantor pusat Mitsui Home Co akan menyalakan alarm pada jam pulang kantor. Alarm yang dimaksud adalah memperdengarkan lagu “Gonna Fly Now” lewat pengeras suara ke seantero kantor setiap pukul 18.00. Tujuannya, perusahaan ingin mengingatkan karyawannya untuk segera meninggalkan meja kerja mereka, dan pulang ke rumah.

5. Hari Khusus Dilarang Lembur

Perusahaan Saint-Works Corporation menyediakan satu hari setiap bulannya sebagai hari-dilarang-lembur. Perusahaan yang bergerak dalam pengembangan sistem teknologi informasi untuk industri perawatan manula ini akan menghukum karyawan yang nekad lembur pada hari-dilarang-lembur tersebut.

6. Drone ”Pengusir” Karyawan Lembur

Sebuah perusahaan bernama Teisei memiliki ide yang unik untuk “mengusir” karyawan dari kantor pada jam-jam seharusnya mereka sudah pulang. Perusahaan itu bekerja sama dengan Blue Innovation mengembangkan drone bernama T-Frend. Cara kerja drone tersebut sangat unik, yakni dengan terbang berkeliling kantor sambil memainkan lagu “Hotaru no Hikari” dan menimbulkan bunyi yang berisik untuk mencari karyawan yang bekerja lembur, lalu bisa mengitari kepala si karyawan, sehingga membuat karyawan tak nyaman. Harapannya, para karyawan akan sadar atau terganggu sehingga memilih untuk segera pulang.

Selain karena workaholic, norma dan nilai sosial seperti kesetiaan kepada perusahaan dan rasa sungkan pada atasan juga membuat para karyawan perusahaan di Jepang rela lembur berjam-jam di kantor. Karyawan di Jepang akan merasa bangga jika bisa bekerja di satu perusahaan saja seumur hidupnya. Nilai yang berlaku di masyarakat Jepang membuat tidak lazim bagi karyawan untuk pindah ke perusahaan lain, meskipun kondisi kerja di perusahaan saat ini kurang nyaman.

Akibatnya, karyawan berusaha keras untuk menunjukkan dirinya “layak” dipertahankan di perusahaan tempatnya bekerja, dan lembur menjadi salah satu jalan menunjukkan itu. Budaya malu untuk pulang mendahului atasan pun menjadi alasan lain karyawan di Jepang pulang lebih larut dibanding rata-rata karyawan di negara lain. Norma sosial di Jepang menuntut karyawan menaruh hormat pada atasan, serta kompak dengan rekan/ tim kerjanya. Dengan pulang mendahului yang lain, meskipun itu sudah di luar jam kerja, membuat karyawan tersebut merasa sungkan, tidak enak, dan merasa tidak menunjukkan rasa sepenanggungan dengan atasan dan timnya.

Baca Juga: Panduan Lengkap Menghitung Upah Lembur Karyawan

Kematian Matsuri Takahashi telah membuat isu mengenai panjangnya rata-rata jam kerja di Jepang mengemuka. Hal ini mengingatkan para praktisi bidang human resources (HR) tentang pentingnya work-life balance, di mana perusahaan mestinya memfasilitasi kebutuhan karyawannya, tidak saja dalam bentuk uang/ gaji, melainkan juga termasuk waktu yang cukup untuk beristirahat dan menjalani peran lain di luar pekerjaan.

Dalam berbagai studi, jam kerja yang panjang dan terus-menerus terbukti tidak berkorelasi positif dengan produktivitas, namun justru sebaliknya. Sebuah studi di Stanford University menyimpulkan bahwa kinerja karyawan akan menurun tajam jika sampai masuk 50 jam kerja setiap minggu. Seorang ahli manajemen, Laura Vanderkam, mengatakan bahwa tidak peduli otak Anda terbuat dari apa, yang jelas otak tidak dapat bekerja tanpa batas. Lebih buruk lagi, jika terus menerus didorong melewati batasannya, otak justru akan melakukan banyak kesalahan. 

Sudah saatnya praktisi HR memperhatikan kembali beban dan jam kerja para karyawannya. Penggunaan HRIS dapat menjadi solusi yang memudahkan Departemen HR dalam mengatur shift kerja; memantau rata-rata jam kerja dan jam lembur karyawan; hingga memastikan kompensasi yang sesuai. Dari basis data yang akurat pada HR system tersebut, Departemen HR bisa melakukan analisis yang baik mengenai beban kerja karyawan dan membuat regulasi yang berpihak pada produktivitas perusahaan dan work-life balance.

Payroll Software Indonesia Untuk Mengelola Keuangan & Karyawan Perusahaan, termasuk perhitungan PPh 21, perhitungan BPJS, dan perhitungan lembur | Gadjian

Share