Menjadi Seorang HR dari Latar Belakang Non-HR? Mungkin aja tuh!

Menjadi Seorang HR dari Latar Belakang Non-HR? Mungkin aja tuh!
Anastasia Simanjuntak – HR Supervisor PT Wanxiang Nickel Indonesia

Untuk menjadi seorang HR dari latar belakang non-HR sangat mungkin terjadi. Salah satu yang mengalaminya adalah Anastasia Simanjuntak, HR Supervisor dari PT Wanxiang Nickel Indonesia. Di tengah kesibukannya, Anastasia Simanjuntak membagikan pengalaman dan tips untuk Sahabat Gadjian dengan latar belakang Non-HR namun ingin menjadi seorang HR. Berikut hasil perbincangan Gadjian dengan Anastasia Simanjuntak:

Gadjian:

Bagaimana Anda pertama kali menjadi seorang HR sedangkan latar belakang Anda bukan dari HR?

Anastasia Simanjuntak:

Awal mulanya saya berkarir sebagai jurnalis Metro Xinwen di Metro TV setelah lulus kuliah di China (ed: Tiongkok), dan mencoba peruntungan di dunia pertelevisian. Ternyata cukup menarik dan menantang. Setelah hampir 3 tahun dan mencapai posisi Junior Producer, karena sesuatu dan lain hal akhirnya saya memutuskan untuk tidak lanjut berkarir di Metro TV.

Setelah itu, saya mendapatkan kesempatan bekerja di salah satu perusahaan properti China, awalnya saya di-hire sebagai asisten wakil direktur pada saat itu. Tetapi karena perusahaan masih sangat baru, saya diberikan kesempatan oleh atasan untuk memegang HR. Walaupun karyawan masih sedikit, tetapi saya merasa takut karena tidak punya background sama sekali tentang HR. Pada saat itu, saya merasa kalau ada kesempatan itu adalah anugerah, jadi saya coba untuk menantang diri saya dan akhirnya keterusan sampai sekarang menjadi HR Supervisor.

Gadjian:

Ketika memulai karir sebagai HR, kesulitan apa yang Anda hadapi dan bagaimana cara mengatasinya?

Anastasia Simanjuntak:

Sebenarnya sangat banyak kesulitannya karena tidak punya background HR, tetapi ada beberapa hal harus ada kompetensi yang harus kita miliki sebagai HR. Saat itu kesulitan saya adalah belum tahu bagaimana caranya me-manage people (karyawan), lalu dalam urusan perekrutan juga saya belum tahu. Dulu sebagai jurnalis saya sering mewawancarai orang, tetapi pada saat mewawancarai orang untuk meng-hire mempunyai teknik yang berbeda dan harus saya pelajari kembali.

Saya juga ditugaskan mengurus payroll dan saat itu saya dituntut untuk bekerja lebih detail, karena pada dasarnya saya tidak suka dengan angka. Tetapi, karena itu sebuah tanggung jawab maka saya harus kerjakan. Hal-hal yang seperti ini awalnya sangat sulit tetapi karena diberikan training dan diajarkan juga dan ingin belajar juga, akhirnya bisa melewati tantangan tersebut.

Gadjian:

Mengenai payroll, bagaimana cara Anda mengurus BPJS, THR dan gaji karyawan dari latar belakang non-HR serta bagaimana mengatasi hal tersebut ?

Anastasia Simanjuntak:

Pada awalnya yang saya inginkan adalah orang bisa mengajari saya bagaimana menghitung gaji, BPJS, PPh 21. Hingga ketika saya masuk di perusahaan tersebut, Tax Officer  mengajarkan saya PPh 21, orang finance mengajarkan saya bagaimana cara mengitung dan memotong gaji, sedangkan BPJS basically saya browsing dan menanyakan sendiri ke bagian BPJS bagaimana cara mengurus dan perhitungannya seperti apa.

Pada saat itu, saya rasa cukup sulit karena butuh waktu untuk saya bisa melakukan itu dengan sendirinya, kalau sejak dulu dibantu dengan HRIS seperti Gadjian, mungkin akan lebih terbantu karena gaji karyawan, BPJS, hak cuti, PPh 21. Semuanya sudah lengkap dan kita tinggal terima beres asal datanya sudah lengkap. Karena pada saat itu orang masih sedikit dan pihak manajeman belum menyetujui pakai jasa HRIS, sehingga saya mengerjakan sendiri dan Thank God karena itu juga saya lebih mengerti lebih dalam tentang itu.

Gadjian:

Menurut Anda, kompetensi dasar apa yang harus dimiliki seorang karyawan untuk memulai karirnya di bagian HR?

Anastasia Simanjuntak:

Yang paling penting bagaimana kita tau cara untuk me-manage  karyawan, nah itu kemampuan yang harus sering belajar, tapi kita juga bisa learning by doing. Kalau menurut saya, HR itu seperti ibu di dalam suatu keluarga, yang melahirkan anaknya dan harus mengurus anaknya hingga besar dan tumbuh dewasa. Sedangkan HR, kita merekrut karyawan potensial yang kita butuhkan sesuai dengan visi dan misi perusahaan, sehingga otomatis kita harus mengurus segala kebutuhan dari benefit yang mereka dapatkan. Tidak hanya itu, keperluan administrasi dan juga bagaimana cara kita develop mereka agar tumbuh dan berkembang mencapai visi dan  misi perusahaan.

Selain potensi tersebut yang harus kita miliki, kita juga harus punya kemampuan komunikasi yang baik, karena dimulai dari kita merekrut, meng-interview sampai apabila terjadi masalah, komunikasi itu sangatlah penting, karena segala sesuatu bisa diselesaikan dengan cara komunikasi, musyawarah dan mufakat. Itu kompetensi yang sangat basic sedangkan yang lainnya bisa dipelajari pada saat kita sedang mengerjakan bidang HR sendiri.

Gadjian:

Apa tips and trik menjadi HR profesional dari latar belakang non-HR?

Anastasia Simanjuntak:

Basically, saya sendiri masih belajar juga bagaimana menjadi HR profesional. Yang terpenting itu kita harus total dalam mengerjakan pekerjaan kita apapun bidangnya, yang penting total dan mau menekuninya. Kalau kita total mengerjakannya, otomatis kita akan terus belajar dan meningkatkan kemampuan kita. Me-manage people itu tidak mudah karena jaman ke jaman orang itu berbeda, generasi X seperti apa, generasi Y seperti apa. Dan tentunya kita threat mereka juga harus berbeda, artinya kita terus belajar memanfaatkan resource yang ada. Mungkin dulu manual sekarang udah online, dan itu lebih gampang kan?

Yang penting jangan sampai kita gaptek (gagap teknologi), tetap harus mempelajari segala sesuatu yang baru, namun tidak melupakan cara-cara lama yang ternyata cocok dengan perusahaan kita. Jadi, setiap orang pasti punya cara-cara yang berbeda. Dan saya rasa asal kita mau melakukan itu dengan segenap hati kita, saya percaya bahwa level yang lebih tinggi itu pintunya akan terbuka buat kita.

Gadjian:

Oke, terima kasih banyak Ibu Anastasia, tapi sebelum itu saya mau meminta Ibu Anna untuk berbicara bahasa mandarin “sudah Gadjian belum?”

Anastasia Simanjuntak:

(berbicara bahasa Mandarin sudah Gadjian belum)

Dari perbincangan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa untuk menjadi seorang HR dengan latar belakang non-HR sangatlah mungkin terjadi. Bukan latar belakang yang menjadi tolak ukur, tapi bagaimana kita menjalankan pekerjaan kita dengan sungguh-sungguh.

“Dalam bekerja yang terpenting adalah harus total dalam mengerjakan pekerjaan kita apapun bidangnya dan mau menekuninya, dengan begitu kita akan terus belajar. Menjadi HR tidak mudah, harus mengelola individu dari berbagai generasi dan memanfaatkan resource yang ada untuk mencapai visi dan misi perusahaan. Namun, apabila kita mau melakukan itu dengan segenap hati, pintu untuk mencapai level yang lebih tingi akan terbuka untuk kita.” – Anastasia Simanjuntak

Payroll Software Indonesia Untuk Mengelola Keuangan & Karyawan Perusahaan, termasuk perhitungan PPh 21, perhitungan BPJS, dan perhitungan lembur | Gadjian

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *