Belajar dari Facebook: 5 Tips Memikat Karyawan Millennials untuk Startup dan UKM

Payroll Sofware Indonesia untuk Mengeloala Keuangan dan Karyawan Perusahaan | Gadjian

Menurut data dari Pew Research, kaum Millennials di Amerika berjumlah lebih dari sepertiga dari seluruh karyawan yang ada di Amerika, dan pada tahun 2025 mereka akan membentuk 44% angkatan kerja nasional Amerika. Facebook seperti diketahui adalah perusahaan pertama yang didirikan dan dipimpin oleh Millennials yang masuk ke dalam Fortune 500. Facebook sendiri menyatakan bahwa mereka bangga telah membangun tempat kerja yang memang dirancang untuk generasi Millennials. Tidak hanya di Amerika, generasi Millenials di Indonesia kini menjadi generasi yang diincar oleh banyak perusahaan dan menjadi mayoritas pendiri pasar startup di Indonesia. Jadi apa yang dibutuhkan untuk menarik dan mempertahankan bakat Millennials?

Melalui survei karyawan yang dilakukan oleh Harvard Business Review (HBR) selama tujuh tahun terakhir menemukan bahwa keinginan dan kebutuhan Millennials sangat mirip dengan rekan kerja dari generasi lainnya. Mereka mencari pekerjaan yang memberi mereka rasa fulfillment atau meaning, memungkinkan mereka untuk menjadi seseorang yang ‘otentik’ dan bermain sesuai kekuatan mereka, menawarkan kesempatan untuk belajar dan berkembang, dan memberdayakan mereka untuk berinisiatif.

Fulfillment. Millennials ingin melakukan pekerjaan yang berarti dan menjadi bagian dari sesuatu yang akan memberi dampak positif bagi dunia. Beberapa orang mungkin akan berpikir bahwa sikap tersebut adalah sikap yang menuntut dan mementingkan diri sendiri (terlalu banyak permintaan dari sebuah pekerjaan). Inilah yang di sebutkan oleh Chip Conley, pendiri hotel Joie de Vivre, “meaning at work dan meaning in work“. Berdasarkan data hasil survei HBR, fulfillment dapat dicapai jika karyawan merasa memiliki pengaruh nyata (pengaruhnya terlihat) dan pengaruh secara personal terhadap pekerjaan. Salah satu caranya adalah dengan memberikan dorongan pada karyawan yang bergabung dengan perusahaan untuk memilih tim mereka berdasarkan kepercayaan bahwa mereka akan memiliki peran dan pengaruh nyata yang berarti bagi perusahaan.

Authenticity. Millennials sering di ‘cap’ sebagai generasi narsis karena banyak berbagi kegiatan mereka di media sosial seperti Facebook. Memang benar jika generasi Millennials cenderung lebih sering memposting selfie daripada generasi lainnya, namun banyak yang berpendapat bahwa hal tersebut berarti mereka lebih egois atau tidak memperhatikan keadaan lingkungannya. Padahal, tidak ada salahnya mengekspresikan diri, baik di rumah mapun di kantor. Hal tersebut dapat menjadi sebuah integrasi yang baik antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Aktif di media sosial dapat menjadi kolaborasi dan alat berkomunikasi karyawan dengan atasan maupun antar karyawan tentang pekerjaan, membangun komunitas sesuai dengan hobby atau kebiasaan, dan berbagi informasi seputar kehidupan pribadi (personality).

Baca Juga: 5 Cara Meningkatkan Employee Engagement Ketika Merayakan Ulang Tahun Karyawan

Strengths. Millennials bekerja sesuai dengan kekuatan diri yang dimilikinya, bukan karena mereka terlalu malas atau terlalu takut untuk mencoba hal baru, tetapi karena mereka ingin melakukan yang terbaik dari kemampuan mereka dan mencapai “flow state” – beroperasi seperti atlit atau musisi saat berada pada posisi tertinggi. Bila pekerjaan mereka tidak memenuhi kriteria ini, generasi Millennials lebih cenderung beralih ke peran baru, meninggalkan perusahaan, atau berhenti. Dan hal tersebut adalah hal yang wajar menurut mereka. Studi 10 tahun McKinsey, top eksekutif melaporkan bahwa mereka 5 kali lebih efektif saat berada pada flow state. Seperti yang diketahui bahwa fokus pada kekuatan yang dimiliki akan memberikan keuntungan bagi orang-orang dari setiap generasi dan perusahaan, maka Millennials cenderung mencocokkan orang-orang dengan peluang yang ada selaras dengan keterampilan dan minat yang dimiliki. Contohnya adalah dengan membangun peran bagi kaum Millennials dibandingkan dengan memaksa mereka untuk menjadi bagian atau jabatan yang sudah ada sebelumnya.

Learning. Bahkan di saat Millennials melatih kekuatan mereka, mereka juga menghargai kesempatan belajar. Mereka menginginkan umpan balik secara real-time, pelatihan yang berkelanjutan, dan kesempatan career path yang jelas dan cepat. Perlu diingat, pelatihan yang berkelanjutan adalah hal penting yang harus didapatkan oleh setiap generasi bagi perusahaan. CEO Facebook Mark Zuckerberg menceritakan bahwa beberapa tahun lalu, ada seorang karyawan magang mengatakan jika dia perlu berlatih untuk berbicara di depan umum. Setelah itu, Mark Zuckerberg berterima kasih atas kritik dan umpan balik tersebut, kemudian Mark Zuckerberg mengikuti pelatihan Q&A dan berbicara di depan umum. Hasilnya, facebook hingga saat ini mempekerjakan karyawan magang yang berani menyampaikan pendapatnya.

Initiative. Kritik lain yang sering diajukan terhadap Millennials adalah “rasa berhak” yang ada di diri mereka. Mereka tidak menunggu untuk duduk di meja. Mereka ingin menjadi agen dalam aksi tersebut, dan mereka memilih pemimpin mereka sendiri, seringkali secara tidak resmi atau di luar hierarki tradisional. Ini adalah inovasi yang memberi energi bagi individu dan perusahaan.

Facebook adalah perusahaan yang terdiri dari hampir 12.000 orang di lebih dari 65 kantor di 30 negara di seluruh dunia, dengan sebuah keluarga aplikasi yang mencakup Facebook, Instagram, WhatsApp, dan Facebook Messenger. Perusahaan lain dapat mengikuti hal yang dilakukan oleh Facebook dengan meningkatkan antusias perusahaan merekrut karyawan dari generasi Millennials dan memberikan kesempatan bagi semua generasi untuk dapat berkembang.

Payroll Software Indonesia Untuk Mengelola Keuangan & Karyawan Perusahaan, termasuk perhitungan PPh 21, perhitungan BPJS, dan perhitungan lembur | Gadjian

Share